Sport

Pageviews

News World

Powered by Blogger.

Popular Posts

Blogroll

Blogger templates

Blogger news

Recent Comments

Jati Diri Kepemimpinan Kresna (11) Cerita Perkawinan Kresna

Drona jatuh cinta kepada Rukmini, putri Prabu Bismaka,
raja Kumbina, hingga terbawa dalam mimpinya.
(karya herjaka HS 1842/2008)
Kresna dikenal mempunyai tiga isteri, yaitu Rukmini, Setyaboma dan Jembawati. Namun ada sebuah cerita yang menyebutkan bahwa Kresna juga beristeri Pertiwi. Rupanya pendapat itu berbaur dengan cerita perkawinan Wisnu dengan Pertiwi.
Dalam bab ini akan dibeberkan tiga cerita perkawinan Kresna, yaitu perkawinan Kresna dengan Rukmini, yang dikenal dengan judul Narayana Maling atau Kresna Kembang. Perkawinan Kresna dengan Setyaboma yang dikenal dengan judul Kresna Pujangga atau Alap-alapan Setyaboma. Perkawinan Kresna dengan Jembawati, yang sering diberi judul Narayana Krama.
Berikut ini ringkasan isi cerita tentang perkawinan Kresna.
1. Perkawinan Kresna dengan Rukmini.
Bismaka, raja Kumbina, mempunyai anak perempuan bernama Rukmini. Rukmini gadis cantik rupawan, sehingga banyak raja dan ksatria yang datang melamarnya. Namun lamaran itu belum diterima olehnya, sebab Rukmini jatuh cinta kapada Narayana yang sampai saat itu belum melamarnya. Rukmini dilamar juga oleh Pendeta Drona melalui Drona jatuh cinta kepada Rukmini, putri Prabu Bismaka, raja Kumbina, hingga terbawa dalam mimpinya. (karya herjaka HS 1842/2008) raja Duryudana, tetapi Rukmini berkeberatan. Untuk menolak lamaran Duryudana, Rukmini mengajukan sayembara. Bila Pendeta Drona dapat menjelaskan makna ungkapan “Sejatining Lanang” dan “Sejatining Wadon,” Rukmini sanggup diperisterinya. Rukmini berpendirian siapa yang mengerti makna ungkapan itu, itulah suaminya. Raja Bismaka mengumumkan pendirian Rukmini itu sebagai sayembara kepada semua pelamar, termasuk raja Duryodana.
Rukmana, anak raja Bismaka, disuruh memberi tahu kepada raja Duryudana di Ngastina. Setelah mendengar sayembara yang diminta oleh Rukmini, Pendeta Drona ingin menjelaskan ungkapan sayembara itu. Pendeta Drona berkata, bila ia berhasil mempersunting Rukmini, kerajaan Kumbina akan bersatu dengan Ngastina. Keluarga Pandhawa tidak akan minta bagian kerajaan Ngastina, karena hubungan persaudaraan mereka semakin erat. Raja Duryudana amat senang, maka keinginan Pendeta Drona didukung sepenuhnya. Pendeta Drona diijinkan pergi ke Kumbina, sejumlah warga Korawa disuruh membantunya. Pendeta Drona dan warga Korawa datang di Kumbina. Mereka dipimpin oleh raja Duryudana.
Raja Bismaka duduk di atas singgasana, dihadap oleh Patih Bisawarna, para menteri, hulubalang dan pembesar negara. Tengah mereka berbicara datanglah putra raja yang bernama Rukmana, kembali dari Ngastina dan Ngamarta. Rukmana melapor bahwa telah menjalankan tugas perintah raja, memberi tahu tentang sayembara kepada raja Duryudana dan mengundang kehadiran keluarga Pandhawa. Tidak lama kemudian Yudhistira, Bima, Nakula dan Sadewa datang menghadap raja. Arjuna tidak ikut hadir, karena bertugas menjaga negara.
Raja Bismaka memberitahu rencana perkawinan Rukmini dengan Pendeta Drona. Raja berkata, Rukmini sanggup diperisteri Pendeta Drona, bila teka–tekinya tepat ditebak maknanya. Sebelumnya warga Pandhawa telah tahu rencana perkawinan Rukmini dengan Pendeta Drona itu, maka kedatangan mereka telah membawa harta pesumbang berupa emas, ratna manikam dan pakaian kebesaran putri saja buatan Arjuna. Setelah selesai penyambutan, raja Bismaka dan Yudhisthira masuk ke istana. Bima, Nakula dan Sadewa diantar Rukmana ke balai peristirahatan. Mereka berjauhan dengan tempat tinggal warga Korawa. Kemudian Rukmana naik kuda memeriksa persiapan perhelatan, penghiasan istana dan kota sekitarnya.
Narayana berbincang-bincang dengan adiknya, Sumbadra. Sumbadra menyatakan kesedihan hatinya karena telah beberapa malam kakaknya selalu pergi sampai jauh malam. Narayana menjawab bahwa kepergiannya untuk berkunjung ke rumah para pegawai dan terhibur oleh macam-macam pertunjukan. Setiap Narayana hendak pergi, menangislah Sumbadra. Narayana menghiburnya, berlagu tembang kawi, bercerita kecantikan bidadari dan cerita yang lain. Setelah Sumbadra lengah tertidur, pergilah Narayana ke Kumbina, sedng Udawa disuruh menjaga adiknya.
Bagawan Abyasa di Wukir Retawu, duduk di wisma Wiyatasasana, dihadap para siswa. Sang Bagawan sedang menguraikan Aji Jaya Kawijayan. Tiba-tiba Arjuna datang bersama panakawan. Arjuna menghormat, lalu menyampaikan berita tentang sanak saudara dan rencana perkawinan putri Kumbina. Diceritakan bahwa sanak saudara telah hadir di Kumbina, dan Arjuna ingin menyepi di Wukir Retawu. Bagawan Abyasa tidak menyetujui sikap Arjuna itu. Disuruhnya Arjuna supaya menyusul ke Kumbina. Sang Bagawan yang bijaksana itu berkata, bahwa tidak lama lagi akan terjadi perang saudara. Arjuna terkejut mendengar kata sang bagawan, dikiranya akan terjadi perang Baratayuda. Ia mohon diri, Bagawa Abyasa merestuinya.
Arjuna dan panakawan meninggalkan pertapaan Wukir Retawu, menuju ke Kumbina. Di tengah hutan, mereka berjumpa dengan dua raksasa besar lagi dahsyat. Raksasa itu disuruh raja Wanasasomah untuk mencari dging manusia atas keinginan isteri raja yang hamil muda. Arjuna hendak ditangkap, sehingga terjadilah perkelahian hebat. Arjuna melepaskan panah, dua raksasa musnah, menjadi dewa Kamajaya dan bidadari Ratih. Arjuna datang menyembahnya. Kamajaya memberi tahu tentang perang yang akan terjadi. Yang terjadi bukan perang Baratayuda, tetapi Pandhawa dan Korawa akan terlibat di dalamnya. Setelah berpesan, Kamajaya dan Ratih naik ke Kahyangan.
(R.S. Subalidinata)
sumber:wayang.wordpres.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jati Diri Kepemimpinan Kresna (9) Penjelmaan Wisnu



macan putih jelmaan Hyang Wisnu menyerang Basudewa
(karya Herjaka.HS 2008)

Di dalam pembicaraan dengan Harya Prabu Rukma dan Ugrasena, Raja Basudewa menyatakan kesedihannya karena memikirkan dambaan ketiga isterinya yang sangat ingin segera melahirkan anak. Karena rasa prihatin tersebut, sang raja semakin tekun bersemadi. Pada suatu saat Dewa memberi petunjuk agar raja berburu ke hutan Kumbina. Di hutan itulah raja akan memperoleh sarana bagi isteri-isterinya agar segera mengandung dan berputra. Patih Yudawangsa mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan perburuan. Sementara Harya Rukma dan Ugrasena diperintahkan mempersiapkan prajurit pengawal raja.
Setelah semuanya siap, patih dan prajurit diperintah supaya mendahului berangkat ke hutan. Raja meninggalkan singgasana, masuk istana menemui keiga isterinya yaitu, Rohini, Dewaki atau Mahendra dan Mahera. Setelah memberi tahu mengenai rencana perburuan ke hutan Kumbina, kepada semua isteri-isterinya, raja segera berpamitan berangkat berburu diiringi para senapati dan prajurit.
Sementara Raja Basudewa berangkat berburu, dikisahkan di negeri Gowagra daerah pulau Nusabarong, seorang raja raksasa bernama Gorawangsa, bercerita perihal mimpinya kepada Suratrimantra, Ditya Suksara dan manggala negara. Raja bermimpi tidur bersama dengan isteri Basudewa, raja Mandura, yang bernama Mahera. Ditya Suksara diminta ke negara Mandura, menyelidiki kebenaran mimpinya, apakah di negara Mandura ada putri bernama Mahera, isteri raja yang sangat cantik dan memikat. Ditya Suksara menjunjung perintah raja, lalu berangkat ke Mandura diiringi barisan prajurit raksasa menuju ke negara Mandura.
Di tengah perjalanan prajurit Gowagra bertemu dengan prajurit Mandura yang menuju ke hutan. Maka terjadila perang. Prajurit raksasa tidak mampu melawan, lalu mereka menyimpang jalan. Selanjutnya prajurit Mandura berkumpul di pesanggrahan.
Di tempat lain, Pandhu bersama punakawan menghadap Bagawan Abyasa di pertapaan Saptaharga. Pandhu bertanya kepada sang bagawan tentang ilham dari dewa yang diterimanya. Diceritakan bahwa Pandhu akan memperoleh anak jelmaan Wisnu. Dijelaskan oleh Bagawan Abiyasa bahwa penjelmaan Hyang Wisnu ke dunia tersebut dapat dibaratkan bunga jatuh ke bumi. Mahkota bunganya jatuh pada putra Basudewa, sedangkan sari bunganya jatuh pada putra Pandhu.
Selain menjelaskan mengenai hal penjelmaan, Bagawan Abyasa memberikan banyak nasihat dan ajaran kepada Pandhu, yang intinya agar Pandhu meninggalkan pertapaan dan kembali ke negara karena sesungguhnya pertapaan bukan tempat raja. Bagi seorang raja yang senang tinggal di hutan, ibarat burung gagak menjenguk tempat pengasingan, tidak baik akibatnya. Pandhu dan punakawan minta pamit, meninggalkan pertapaan, dan kembali ke negara.
Ditya Suksara datang ke tengah hutan Gowagra. Ia membeberkan rencana kerja kepada prajurit yang mengiringnya. Para raksasa disuruh mengganggu prajurit Basudewa yang berburu di hutan Kumbina. Setelah membagi tugas, Ditya Suksara masuk ke istana Mandura untuk menyelidiki keberadaan Mahera, isteri Basudewa. Setelah penyelidikannya dianggap cukup, Ditya Suksara kembali ke negara Gowagra, melapor kepada raja tentang isteri Basudewa.
Sepeninggal Ditya Suksara datanglah Pandhu bersama punakawan. Raksasa-raksasa mencegat mereka, tetapi dapat dihalau Pandhu.
Di Kahyangan Hyang Narada dihadap oleh Hyang Endra, Hyang Brahma, Hyang Bayu, Hyang Sambo, Hyang Wisnu dan Hyang Basuki. Hyang Narada menyampaikan perintah Hyang Gurunata, agar supaya Hyang Wisnu menjelma ke dunia bersama Bathara Laksmanasadu. Karena dahulu kala sewaktu Rama memerintah Ngayodya telah dijanjikan kelak akan menjelma ke dunia bersama Laksmana maka sekarang janji itu digenapi. Hyang Wisnu menjelma bersama Hyang Laksmanasadu.
Namun penjelmaan mereka tidak bisa langsung, harus dengan perantara. Untuk itu Hyang Wisnu menjelma dalam wujud harimau putih, sedangkan Hyang Laksmanasadu dalam wujud ular naga. Hyang Basuki ingin ikut menjelma bersama Hyang Laksmanasadu. Hyang Brahma dan para dewa menyetujuinya. Lalu mereka bertiga turun ke dunia menuju hutan Kumbina.
Raja Basudewa bersama Harya Prabu Rukma dan Ugrasena yang sudah berada di tengah daerah perburuan sedang membicarakan keberadaan dan perilaku binatang di tempat tersebut.. Tiba-tiba datang prajurit memberi tahu, bahwa di daerah perburuan datang harimau putih bersama ular naga. Raja Basudewa turun mendekat ke tempat harimau dan ular naga. Tanpa diduga, cepat bagai kilat, harimau dan ular naga tersebut menyerangnya dengan berani. Raja menghindar, lalu melepaskan panah. Panah tepat mengenai sasaran, dan tubuh harimau tersebut tergolek. Keajaiban terjadi, tubuh harimau segera menghilang. Jasmaninya merasuk ke tubuh Mahendra, isteri Basudewa, dan ruhnya masuk ke tubuh Kunthi, isteri raja Pandhu. Kemudian ular naga menyerang tapi mati terkena panah. Tubuh ular juga menghilang berubah wujud menjadi Hyang Basuki dan Hyang Laksmanasadu, dan merasuk kepada Rohini, isteri Basudewa.
Raja Basudewa heran karena peristiwa itu. Ia berdiri dan bermenung, ada sesuatu yang mengusik hatinya bahwa di istana terjadi sesuatu. Tanpa membuang waktu, Raja Basudewa menugaskan Harya Prabu Rukma supaya kembali ke istana dan memeriksa dengan teliti apa yang terjadi di istana.
Ketika pada suatu sore, Raja Gorawangsa sedang berbincang-bincang dengan Suratimantra tentang Ditya Suksara yang diutus ke Mandura, tiba-tiba Ditya Suksara datang, memberi hormat, lalu bercerita tentang kecantikan Mahera, isteri Basudewa. Diceritakan bahwa sekarang saat yang tepat untuk melakukan siasat, karena raja Basudewa dan prajurit tidak sedang di istana, namun tengah berburu di hutan.
Raja Gorawangsa amat gembira lalu ingin segera pergi ke kerajaan Mandura. Namun sebelum berangkat, tiba-tiba Togog dan Sarawita datang dan melaporkan bahwa banyak prajurit raksasa mati di tangan Pandhu. Raja Gorawangsa tidak menghiraukan kematian para prajurit raksasa. Yang ada dalam pikirannya hanyalah isteri raja Mandura, yaitu Mahera. Maka Gorawangsa segera menyamar dalam rupa dan wujud Basudewa, dan pergi ke istana Mandura. Ditya Suksara mengikutinya dan mengawasi dari kejauhan.
sumber:wayang.wordpres.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita Wayang Karno Tanding Bahasa Jawa





          

          Dicritakake ndisik ana putri kang ayu , sing jenenge Dewi Kunthi. Dewi Kunthi  nikah karo Prabu Kumojoyo lan urip ing desa kerajaan sing jenenge  “Pandhawa”. Dheweke dikaruniai anak sing jenenge, KARNA . Sakwise Pirang tahun Dewi Kunthi nduwe anak meneh sing dijenengake ARJUNA. Dewi Kunthi  sayang banget marang  Arjuna ,  ndelok kabeh iku Karna ngarasa awake gak diperhatekne marang ibune, Karna sampek nguncali watu marang ibune, Dewi Kunthi utawa ibune iku langsung nesu marang Karna, tanpa gak sadar Dewi Kunthi ngomong kang sing gak apik marang Karna sing nyebabake Karna lara ati. Akhire Karna milih ngaleh saka Kerajaan Pandhawa.
                Sak wise pirang-pirang tahun Karna kalungonan Karna saka kerajaan, ibune mesti nggoleki lan nangisi karna. Ing sawiding dina , pasa ibune mikirne Karna lan njaluk marang para dewa ngge nemokake dheweke karo Karna. Ora suwene wektu , kakrungu swara bocah enom suarane kaya Karna.
                Ing istana Karna ketemu ibune, nanging maksud mbalike Karna ing kerajaan uduk kangge ketemu kaluarga lan dulure. Nanging maksude Karna yaiku kangge ngerti keadaan ibune lan karna njaluk restu kangge dadi Ksatria perang. Ibune ora ngrestuake amergo yen dadi Ksatria perang podo karo Karna nglawan adi adine dhewe. Karna ora nggagas , lan dheweke langsung lunga ninggalake ibune kang nangis amerga kaputusan Karna.


Akhire , peperangan antara  Arjuna  saka kesatrian Madukoro dadi  Ksatria perang Negara Amarta melawan Adipati Basukarno utawa Karna saka Awonggo dadi Ksatria perang Negara Astina.
                Prabu Salyo lan Sengkuri nduwe rencana arep mateni Abimanyu, salah siji anak saka  Arjuna, Amergo  pihak Astina kaweruh Kerajaan Amarta arep diturunake marang Abimanyu, amerga kuwi sasaran utamane yaiku mateni Abimanyu.
Pas wektune perang, Abimanyu wis okeh katusuk anak panah, nanging Abimanyu tetep nahan sampek mati . Sak wise, Mase Semar nemokake mayit Abimanyu sing kagletak kaku. Mase Semar karo Kresna yaiku kakak Arjuna bingung mikirake Kerajaan Amarta. Arjuna sing durung ngerti katiwasan putrane terus nyusun rencana kangge mbinasakake Ngastina.  Sak wise ngerti  katiwasan putrane, Arjuna langsung maju kadewean kanggo nglawan Prajurit Ngastina. Kurawa ngrasa senang, amergo biso mateni Abimanyu. Nanging tanpa diweruhi, Abimanyu ndue garwa sing lagi mbobot, lan mengkone anak iku sing ngantikake Abimanyu.
Karna nantang Arjuna kangge  ndang perang. Nanging Arjuna menolak, amergo dheweke ngerti Karna iku sadulur kandunge dhewe. Karna ngongkon Arjuna njupuk senjatane. Nanging  Arjuna nolak ngge perang. Akhire atine Karna luluh, terus Karna lan Arjuna  saling kapelukan. Karna sadar Arjuna iku adik siji-sijine sing didhuweni. Ibune weruh lan ngrasa seneng.
Nanging Karna nguculake pelukanne, lan nuduh Arjuna sekongkol arep menusuk dheweke saka mburi. Akhire Karno lan Arjuna berkelahi hebat , ibune menangis ngaharep kaloro putrane iku mandekake kagelutan iku. Akhire Arjuna terjatuh. Arjuna sengaja ngalah demi Ibune, lan ngaharep atine Karna bisa luluh. Kaweruhan kuwi Kurowo ngguyu cekakakan  amergo Arjuno kalah.
Nanging kagelutan iku tetep sido, Sampek - sampek saya memanas. Wektu peperangan kalakon hebate ana keanehan loro ksatria sing pinter manah iku pada-pada ngetokake akeh anak panah nanging ora enek siji wae sing ngenei kaloro-lorone. Kadang mandek terus pada pepandang, pada netesake banyu mata. Prabu Salyo(Kusir Karna) lan Prabu Kresno (Kusir Arjuna)kalorone ngerti, kaloro-lorone putra Dewi Kunthi iku ora saling tega mateni sampek ngloroni sitik wae dadi ora enek  sitokae panah pas sasaran.
Wektu sesino pada saling tempur, saling ngetokake senjata saktine, saling ngudanke panah nanging ora enek sitokwae sing ngeneki awak. Prabu Kresno dadi kusir Arjuno lan botohe Amarta (Pandawa) ngerti persis senjata Pasopati sing dipasang ing gandewa Arjuno. Dadi Tali kusir jaran disentak dadi jaran gerak mangarep pas wektu Pasopati wucul saka gandewa sing awale diarahke mung ning ngarep Karno nanging amergo kereta gerak mangarep dadi Senjata Sakti Pasopati pas ngeneki gulu Adipati Basukarno utawa Karna. Anak Dewa Surya iku mencelat kenek kereta sampek kereta ajur.  Kaweruhan kabehiku Dewi Kunthi utawa ibune Karno lan Arjuna, ngerti yen anake kang pertama iku kabener lunga kanggo salawase.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BATARA GURU.


 
Gambar-201: BATARA GURU (WANDA RAMA)
Gambar-202: BATARA GURU SEBELUM KENA TULAH BERTANGAN DUA
 
 Gambar-203: BATARA GURU (WANDA KARNA00
 
Gambar-204: BATARA GURU (KREASI BARU/BLAK MUSEUM SENAWANGI/MADURA)
 
Gambar-205: BATARA GURU (WANDA RECA)
 
Gambar-206: BATARA GURU (WANDA RECA TERSOROT MATAHARI DAN SATELIT)
Batara Guru disebut juga Sang Hyang Manikmaya, Jagatpratingkah, Jagatnata, Hutipati, Lengin, Nilakanta, Pramestiguru, Randuwanda, Caturboja, Girinata, Rudra, Dewaraja, Syiwa dan masih banyak nama lainnya. Ia dilahirkan berupa manik bersama-sama  cahaya/Narada,  Teja/Tejamaya/Antaga,  dan maya/Ismaya. Ia memiliki senjata sakti Cis Kalaminta dan Trisula Cundamanik, di samping memiliki aji Pengabaran, Kemayan dan Kawrastawan. Karena kesaktiannya dan ketampanannya, orang tuanya Hyang Tunggal bersabda bahwa kelak akan menguasai Tribuana yaitu Mayapada/dunia kedewataan, Madyapada/dunia kehalusan/alam jin syaitan, Arcapada/dunia fana/dunia manusia di bumi. Tetapi karena ia takabur merasa dirinya tiada cacat dan Hyang Tunggal mengetahuinya, maka Hyang Tunggal bersabda lagi bahwa ia akan mendapatkan cacat berupa belang di leher, lemah di kaki, caling di mulut, dan bertangan empat. Pada waktu Nabi Isa lahir, Manikmaya datang menyaksikan, dilihatnya bayi yang berumur satu bulan belum bisa jalan sebagaimana layaknya Dewa. Hal ini dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak sempurna, seketika itu juga Manikmaya mendapat tulah dan kaki kirinya menjadi lemah. Suatu ketika Manikmaya merasa dahaga, dilihatnya sebuah telaga yang teramat jernih airnya, minumlah ia. Tetapi begitu air yang diteguknya terasa berbisa maka dimuntahkanlah kembali. Pada saat itulah Manikmaya mendapat cacat belang di leher. Karena Manikmaya tidak bisa menahan nafsunya, maka disumpah "seperti raksasa" oleh permaisurinya Dewi Uma. Seketika itu juga bercalinglah Manikmaya. Ketika Hyang Manikmaya melihat orang bersembahyang dengan menyelimutkan bajunya, dia ketawa oleh karena mengira bahwa orang itu bertangan empat. Seketika itu juga tubuh Hyang Manikmaya bertangan empat.
Wayang Batara Guru bermata jaitan, hidung mancung, mulutnya tertutup, tangannya empat dua sedekap dua lagi memegang trisula dan panah. Ia berdiri di atas Lembu Andini.
Beberapa macam wanda dari wayang Batara Guru ini antara lain: 1. Reca, 2.Karna, 3.Rama dan mungkin masih ada yang lain lagi. Oleh karena itu disini ditunjukkan enam macam bentuk wayang Batara Guru. Namun yang jelas terlihat satu wayang yang belum bertangan empat, hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan Barata Guru saat belum mendapatkan tulah dari ayahnya Sang Hyang Tunggal. Wayang Batara Guru ini adalah ciptaan Panembahan Senapati di Mataram dengan sengkalan "Dewa dadi ngecis bumi".  Wayang ini lain dari wayang-wayang lainnya, wayang Batara Guru menghadap orang yang melihatnya, tapi karena wayang kulit adalah satu dimensi saja, maka wayang ini digambarkan mukanya nampak miring.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BIMA/RADEN WERKODARA.


   Gambar-160: RADEN WERKODARA (HITAM/LINTANG)
 
  Gambar-161: RADEN WERKODARA (HITAM/MIMIS)
 
 Gambar-163: RADEN WERKODARA (JAGONG)
 
 Gambar-164: RADEN WERKODARA (BEDIL)
 Gambar-166: RADEN WERKODARA (KETUG)
Raden Werkodara adalah putra Prabu Pandudewanata raja negara Astina setelah Prabu Kresnadwipayana atau Wiyasa. Ibunya bernama Dewi Kunti/Prita. Ia adalah putra kedua walaupun kelahirannya ke dunia lebih dahulu dari pada Yudistira. Karena waktu lahir berupa bungkus, bungkus tersebut dapat dipecah setelah dihunjam gading Gajahsena. Terlahirlah anak bayi yang kemudian dapat membinasakan Gajahsena sendiri, sehingga sukmanya menyatu dengan anak bayi yang lahir keluar dari bungkus tersebut. Oleh karena itu oleh Batara Narada ia diberi nama Bratasena yang berarti kelahirannya terjadi karena tapa brata dan bantuan Gajahsena. Nama lain dari Werkodara adalah: Bayusuta, Bimangalaga, Pandusiwi, Kusumadilaga, Gandawastraatmaja, Jodipati, Jayalaga, Wijasena.
Raden Werkodara berbusana: 1.Gelung Minangkara Cinandi Rengga, rendah depan tinggi belakang. 2.Pupuk mas reneka jaroting asam. 3.Sumping pundak sinumpet. 4.Anting-anting panunggal maniking warih, 5.Sangsangan naga banda (ular besar). 6.Kelat bahu reneka blibar manggis, binelah hingga kedaganya. 7.Gelang candra kirana. 8.Kampuh poleng bang bintulu adi, merah, hitam, kuning, putih dan hijau maya-maya. 9.Paningset cinde bara binelah numpang betis kanan dan kiri. 10.Porong dapur naga raja sebagai kancing.
Nafas Raden Werkodara: kendel, bandel, kumandel, tetep, mantep, madep, sregep, ajeg, jejeg, kuat dan sentosa, awas dan waspada, taberi, berbudi luhur, dan lahir tembaga batin kencana.
Pada waktu muda tidak bersanggul/gelung tetapi bergaruda membelakang besar rambut terurai di pundak. Wayang tersebut akan ditunjukkan dalam nomor Raden Bratasena. Setelah melalui rintangan-rintangan dan ujian-ujian yang berat antara lain: mencari "kayugung susuhing angin" dan "tirta perwitasari mahening suci" di mana Raden Werkodara harus mengalahkan dua raksasa penjelmaan Batara Indra dan Batara Bayu yang bernama Rukmuka dan Rukmakala di hutan Tribasara di gunung Reksamuka atau Candramuka, harus mencebur Samudra Selatan dan mengalahkan Naga Nabatnawa akhirnya Werkodara dapat berjumpa dengan Dewa Ruci dan diajarkanlah semua ilmu kesempurnaan sejati yang ia cari. Sejak saat itu Werkodara bergelung, tidak bergaruda membelakang lagi.
Dalam perang Baratayuda Werkodara dapat membunuh senopati Korawa antara lain: Jayawikata, Bomawikata, Gardapati, Bogadenta, Dursasana, Sengkuni dan bahkan Prabu Duryudana pun tewas olehhya.
Werkodara bermata telengan, berhidung dempak, bermulut keketan, kumis dibludri, muka di sungging warna hitam, berpupuk di dahi, bersanggul/gelung supit udang disebut minangkara, rambut dada lengan betis semua dibludri, berkuku pancanaka, kain disungging poleng. Sama halnya dengan Batara Bayu, Werkodara dapat digunakan sebagai wayang penutup pakeliran tanda kemenangan yang disebut "Tayungan". Wanda wayang Raden Werkodara ini banyak sekali antara lain: 1.Bambang, 2.Bedil, 3.Bugis, 4.Gandu, 5.Panon, 6.Gurnat, 7.Jagong,  8.Jagor, 9.Kedu, 10.Lintang, 11.Mimis, 12.Ketug, 13.Lindu dan mungkin masih ada yang lain lagi. Yang bermuka dongak biasa disungging hitam seluruh tubuhnya. Di sini ditunjukkan hanya tujuh wayang saja, walaupun wayang koleksi Werkodara ini sebenarnya masih ada yang lain lagi, mengingat  sempitnya ruangan dalam buku ini.

7. BIMA SUCI.
Gambar-168: BIMA SUCI
 Gambar-169: BIMA SUCI (BERBAJU DAN BERKAIN BRAHMANA
            Bima Suci sebenarnya adalah Raden Bima/Bratasena/Werkodara. Setelah bertemu dengan Dewa Ruci di tengah-tengah Samodra Selatan dan memperoleh ajaran ilmu kasampurnanjati, ilmu manunggaling kawula lan Gusti, kemudian mendirikan pertapaan di wilayah Negara Astina yang disebut pertapaan Arga Kelasa. Karena ilmu tersebut sangat mulia bagi kehidupan umat manusia di dunia, maka banyak kaum muda, kaum ksatria dan kaum tua pun yang berkeinginan menyerap ilmu tersebut, termasuk Pendeta Kendalisada Begawan Kapiwara atau yang lebih terkenal disebut Resi Anoman. Mungkin kalau di masa sekarang dapat dipersamakan dengan timbulnya seorang motivator, seorang psikolog atau psikiater, seorang konsultan, yang banyak membantu memecahkan kesulitan-kesulitan hidup di masyarakat.
            Oleh karena pertapaan Arga Kelasa berada di wilayah Negara Astina, maka tidak mengherankan bila Prabu Duryudana raja Astina dalam persidangannya membicarakan perihal keadaan tersebut di atas. Prabu Duryudana sangat resah hatinya, karena banyak para warga negara Astina yang terpengaruh oleh ajaran tersebut di atas, sehingga semua warga akan memihak kepada Sang Bima Suci yang sebenarnya  Raden Bratasena atau Werkodara, salah satu dari Pandawa. Prabu Duryudana khawatir akan jatuh kewibawaannya, semua warganya akan memihak kepada Sang Bima Suci, dan lebih khawatir lagi Negara Astina akan jatuh di bawah kekuasaan Raden Werkodara yang memang sebenarnya berhak atas negara Astina menggantikan ayahanda Prabu Pandudewanata. Maka  diutuslah Adipati Karna dengan membawa prajurit ke Arga Kelasa untuk mengusir Buma Suci dan menghancurkan pertapaannya. Tetapi karena Arga Kelasa dijaga oleh Anoman dan para putra-putra Pandawa, maka utusan tersebut dapat dikalahkannya.
            Kekhawatiran tidak saja terjadi di Arcapada, bahkan di Kahayangan Suralaya, Batara Guru merasa juga kehilangan kewibawaannya, oleh karena itu diutusnya Para Dewa untuk menguji sampai di mana tingkat kebrahmanaan Sang Bima Suci.
            Meskipun bertubi-tubi hambatan yang dialami, Bima Suci tetap mengajarkan ajaran manunggaling kawula lan gusti, termasuk kepada Raden Arjuna adiknya. Prabu Pandudewanata ayahnya dan Dewi Madrim ibu tirinya yang dipersalahkan oleh Para Dewa karena membunuh kijang jelmaan Resi Kinindama dan dimasukkan ke neraka dapat diampuni oleh Dewata dan dinaikkan ke Surga Abadi oleh amal-baik Bima Suci. Demikian pula seorang raja raksasa bernama Prabu Karungkala dapat diruwat sehingga mati sempurna. Akhir cerita Begawan Bima Suci kembali menjadi Raden Werkodara berkumpul kembali dengan para Pandawa di Amarta membangun negara, mensejahterakan dan memakmurkan seluruh rakyatnya. Cerita ini tentunya tidak ada dalam kitab Mahabarata yang dari India, cerita ini gubahan atau sanggit murni pujangga atau Dalang di Nusantara ini.
            Wayang Bima Suci mirip Raden Werkodara, hanya saja berbaju, berkain, bersampir di pundak dan bersepatu Dewa, memakai keris di depan. Tetapi ditunjukkan juga satu wayang berupa Werkodara hitam. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BATARA BAYU.




Batara Bayu adalah putra keempat Batara Guru dengan Dewi Uma. Batara Bayu disebut juga Batara Pawana, ia adalah Dewa angin dan Dewa kekuatan. Berkedudukan di Kahayangan Swarga Panglawung atau Kahayangan Puserbuwana. Isterinya bernama Dewi Sumi. Batara Bayu berputra: Batara Sumarma, Batara Sangkara, Batara Sadama, dan Batara Bismakara. Di samping keempat putra tersebut, Batara Bayu mempunyai putra-putra angkat yaitu: Raden Werkodara, Maruti/Anoman, Jajahwreka, Gajah Situbanda, Gunung Maenaka dan Naga Kuwera. Oleh karena itu enam putra angkat Batara Bayu ini dapat disebut saudara tunggal Bayu, demikian dalam pedalangan. Batara Bayu dan putra-putra angkat inilah yang ditampilkan dalam akhir pergelaran sebagai tanda penutup yang disebut "tayungan" yaitu menari tanda kemenangan. Dalam lakon zaman Dewa-Dewa tayungan dilakukan oleh Batara Bayu, dalam lakon Ramayana tayungan dilakukan oleh Anoman, dalam lakon Mahabarata tayungan dilakukan oleh Werkodara/Bratasena. Sebagai tanda putra Batara Bayu, Anoman dan Bratasena berkain poleng sebagai tanda memiliki kekuatan angin.
Wayang Batara Bayu berhidung dempak, bermata telengan, kumis dibludri, berjanggut wok, muka disungging warna hitam. Berjamang tiga susun, bermahkota, bergaruda membelakang, bersumping pudak sinumpet. Rambut terurai di pundak, berbaju dan berkalung selendang. Berpontoh candrakirana, bergelang, berkeris terselip di depan, berkain rapekan Dewa disungging poleng sebagai lambang Dewa angin. Berkuku pancanaka, berkeroncong dan bersepatu.
Ada kalanya wayang Batara Bayu ini dipinjamkam wayang Tugu Wasesa, mengingat wayang Batara Bayu dalam perangkat satu kotak wayang yang disediakan tidak dilengkapi dengan wayang ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RESI RAMABARGAWA.


  Gambar-156: RESI RAMABARGAWA (MEMBAWA BARGAWASTRA)
 Gambar-157: RESI RAMABARGAWA (MEMBAWA WADUNG/KAMPAK)
 Gambar-158: BATARA RAMAPARASU
Dalam cerita Ramabargawa mempunyai umur yang sangat panjang, sehingga dari zaman lakon Arjuna Sasrabahu, Ramayana sampai dengan Baratayuda masih sering dikeluarkan dalam pergelaran. Dalam cerita tokoh ini tidak mati kalau tidak dengan titisan Batara Wisnu. Pada waktu mencari titisan Batara Wisnu Resi Ramabargawa yang disebut juga Resi Ramaparasu atau Jamadagni  bertemu dengan Prabu Arjuna Sasrabahu.  Karena Prabu Arjuna Sasrabahu telah hilang Wisnunya, maka Prabu Arjuna Sasrabahu kalah dan mati melawan Resi Ramaparasu/Jamadagni. Kemudian Resi Ramabargawa melanglang dunia untuk mencari titisan Batara Wisnu dan akhirnya bertemulah dengan Raden Rama Wijaya yang sedang memboyong putri dari negara Mantilireja/Mantilidirja/Mantiliradya setelah menang dalam sayembara yang diadakan oleh raja Mantilireja Prabu Janaka. Dalam pertemuan ini karena Resi Ramabargawa dengan senjatanya yang terkenal Bargawastra dan Kampak selama ini selalu menang, tetapi karena yang dihadapi adalah benar-benar titisan Batara Wisnu yaitu Raden Rama Wijaya maka kalah dan matilah di tangan Raden Rama Wijaya dan selanjutnya menjadi Dewa di Suralaya dengan sebutan Batara Ramaparasu. Batara Ramaparasu akan keluar di pakeliran bersama Batara Narada, Kanwa, dan Janaka dalam lakon Kresna Duta, hanya saja kostumnya tentunya harus seperti Dewa memakai jubah (terkenal dalam sulukan: lengleng gati nikang hawan sabha-sabha niking Hastina, samantara tekeng tegal Kuru nararya Kresna laku, sirang Paracurama Kanwa Janakadulur Narada, kapanggih irikang tegal miluri karyya sang Bhupati), di sini disajikan dua wayang. Di desa-desa wayang ini biasanya tidak dilengkapi, namun biasanya digantikan dengan wayang Bratasena hitam.
Wayang Ramabargawa berhidung dempak, bermata telengan, kumis dan godek dibludri untuk yang hitam, rambut terurai/bodolan sampai di pundak, selalu membawa gendewa atau wadung oleh karena itu sering disebut juga Rama Wadung, muka/tubuhnya disungging warna hitam atau prada dan bercawat untuk yang masih melanglang buana, berbaju dan berkain rapekan Dewa untuk yang sudah menjadi Dewa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS